Jawa Barat – Dodi Syahputra

Jawa Barat – Dodi Syahputra

KUNJUNGAN KERJA KOMISI C DPRD KOTA PAYAKUMBUH (2-Habis)

JABAR BANGUN BANDARA, FS SEJAK 2003

Gambar 

KADISHUBKOMINFO KOTA PAYAKUMBUH ADRIAN SH MEMBERIKAN PLAKAT DAN OLEH2 ROMBONGAN DPRD KOTA PAYAKUMBUH KEPADA KABID TRANSPORTASI DARAT DISHUB JABAR A WIJANTO

Ternyata, sejak 2003 lalu telah dilaksanakan feasibility study (studi kelayakan) oleh Provinsi Jawa Barat dengan lokasi areal 5.000 hektar untuk Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Kepala Bidang Transportasi Darat, Dinas Perhubungan Provinsi Jabar, Andreas Wijanto yang berdialog dengan Kadishubkominfo Kota Payakumbuh Adrian SH bersama Kasi Perhubungan Udara serta tim kerja bandara, Kamis (19/9) menyampaikan bahwa Bandara ini dibangun salah satunya alasan untuk menampung overload penumpang di Bandara Soekarno Hatta yang mulai luber.

Laporan, Dodi Syahputra – Bandung

Pertemuan dua jam itu berlangsung cukup alot pertanyaan dan penjelasan dari tuan rumah Dishub Provinsi Jawa Barat. Sementara, tidak satu anggota DPRD Kota Payakumbuh pun yang hadir sebab dalam jadwal Dishub Jabar hanya bisa menerima pertemuan formal, hari kemarin itu, di sore harinya.

Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Jabar di Jalan Sukabumi Bandung itu cukup apik, tenang, dan nyaman. Hal ini disebabkan aktivitas fisik kendaraan di sana tidak sebanyak di Kota Bandung yang sibuk alang kepalang. Pagi itu, di Dishub Jabar terlihat aktivitas kesibukan kantor, ada wawancara video bersama Kadishub, ada persiapan menerima tamu dari kementrian dan kesibukan lainnya.

Meski begitu, Kadishubkominfo Kota Payakumbuh Adrian SH, Kasubag Perpustakaan Humas DPRD Firdaus, staf pendamping Bustamam dan Rakyat Sumbar bersama wartawan Mingguan Editorial Yusrizal tetap diterima dengan baik. Inilah, keunggulan Jawa Barat yang menghormati tamu dengan sepenuh hati.

Diskusi mengalir soal pembangunan Bandara Payakumbuh yang disampaikan oleh Adrian. Bahwa Bandara Payakumbuh sudah sampai presentasi dan proposalnya ke Kepala Otorita Bandara di Kemenhub. Namun, kendala terkini, feasibility study (FS) masih belum ada. Kendala lainnya, belum seluruh DPRD pun memberikan dukungan.

Andreas Wijanto kemudian menjelaskan. Proses pembangunan BIJB sudah lama menjadi keinginan bersama. Bandara ini, justru kehendak dari provinsi yang disetujui oleh Kabupaten dan Kota lainnya. Sehingga, setiap progres atau tahapan kerja selalu tepat waktu dan sesuai skema.

BJIB saat ini sedang dalam pengerjaan kontruksi dasar dan bangunan. 2016 ditargetkan Bandara Internasional ini akan resmi beroperasi dan menjadi Embarkasi Haji di tahun tersebut. Bandara yang berlokasi di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka berjarak 100 km dari Kota Bandung.

”April lalu, sudah diresmikan Kantor Badan Kerjasama Pembangunan dan Pengelolaan Bandar Udara Internasional (BKPPBUI) Jawa Barat. Kantor ini yang menjadi leading sector bagi investasi pembangunan Bandara yang butuh sekitar Rp30 triliun,” ujar staf bidang transportasi udara menjelaskan.

Bahwa, kini dilakukan berbagai upaya agar pembangunan Bandara cepat selesai. Investor dapat datang langsung ke BKPPBUI tanpa harus mendatangi Kantor Gubernur terlebih dahulu. Mereka dapat langsung melihat lahan dan berbagai rencana yang telah dibahas dalam feasibility study.

Pun, pola investasi pembangunan bandara kini melibatkan diupayakan melalui obligasi daerah. Jika jadi, maka sistem obligasi pertama di Indonesia ini akan menjadi pilot project nasional. Sistem investasi juga melibatkan multifunding. Seluruh pihak yang ingin berinvetasi, terbuka krannya oleh Pemprov Jabar lewat BKPPBUI.

”Di sekitar Bandara akan dibangun Aerocity yang lahannya dapat mencapai 3200 hektar yang terdiri dari kawasan industri, hunian, central park dan beberapa penunjang lainnya. Sampai hari ini telah diselesaikan pemasangan ground breacking bandara,” papar pihak Dishub Jabar serius.

Payakumbuh Bisa!

Mendengar penjelasan singkat dari Kadishubkominfo Kota Payakumbuh Adrian SH, A Wijanto dan tim trasportasi udara Dishub Jabar meyakinkan bahwa Payakumbuh bisa! Jika sudah ada lahan, tahapan pasti berikutnya adalah FS. Setelah FS ini, pemerintah pusat dan investor pasti mengucurkan dana.

”FS itu cukup banyak jika butuh dana Rp1 miliar. Lalu, masih ada kendala belum setuju seluruh elemen di Payakumbuh menjadi kendala. Kini, Pemprov sudah diserahkan fungsi koordinasi kelanjutannya. Sedang, di Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota mempersiapkan tim kerja, jika Pemprov mengkoordinasikan,” ujar Adrian.

Persoalan sebenarnya, keinginan pembangunan Bandara ini selain aspek bisnis dan kesejahteraan masyarakat, juga diuntukkan bagi penyangga, jika bencana itu menimpa pantai Barat Sumatera. Jika itu terjadi, satu-satunya Bandara Internasional Minangkabau di Sumbar akan lumpuh.

Dishub Jabar menyarakan agar pembangunan Bandara Payakumbuh dilanjutkan. Lewati proses formalnya dengan sandaran FS terlebih dahulu. Jika FS telah siap, semua sepakat, maka sangat gampang mencai alternatif pencarian anggaran pembangunan dan investasi lainnya.

Adrian SH kemudian menerima beragam Perda terbaru dari Pemprov Jabar, khususnya Perda Nomor 13 Tahun 2010 tentang Pembangunan dan Pengembangan Bandara Internasional Jawa Barat dan Kertajati Aerocity. Di dalam Perda itu dipasalkan tentang maksud pembangunan Bandara untuk pengembangan pembangunan wilayah Ciayumajakuning (Cianjur, Indramayu, Majalengka, Kuningan). Pasal 3 Perda Nomor 13 Tahun 2010 ini juga menegaskan di ayat (e) fungsi Bandara meningkatkan investasi, industri, perdagangan, pariwisata, permukiman, dan perluasan lapangan kerja.

Pertemuan di sela-sela kesibukan di Kantor Dishub Provinsi Jabar itu berakhir lega. Payakumbuh terus mendapat harapan dan sokongan baru. Bandara Payakumbuh, meski kini di tangan Gubernur, masih bisa direalisasikan. Insya Allah. (Tamat)

Sumber

Share