Pariwisata Jabar Harus Segera Dipoles

Pariwisata Jabar Harus Segera Dipoles

BANDUNG,(PRFM) – Jawa Barat adalah wilayah yang dianugrahi potensi alam yang sangat melimpah baik pegunungan maupun pantai. Tak ayal, hal tersebut bisa dimanfaatkan sebagai lokasi wisata. Meski demikian, masih banyak pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah provinsi Jawa Barat dan juga pemerintah kota/kabupaten setempat untuk segera diselesaikan.

Salah satu permasalahan yang hinggap di pariwisata Jawa Barat adalah adanya anggapan mahalnya harga yang harus dikeluarkan wisatawan untuk menikmati lokasi wisata di Jawa Barat. Bahkan, Ketua Asosiasi Agen Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Jawa Barat, Budijanto Ardiansjah dalam talkshow kontoversi di PRFM, Selasa (26/12/2017) menilai, pariwisata Jawa Barat tertinggal perkembangannya dari pariwisata daerah Indonesia Timur.

“Jawa Barat memang sebenarnya dari dulu itu adalah primadona pariwisata. Cuma memang kita akui bahwa beberapa tahun belakangan ini kita aga sedikit tertinggal dari daerah lain. Karena saat ini trendnya itu perluasan di Indonesia timur, karena di Indonesia Timur itu luar biasa sekali perkembangannya,” ungkapnya.

Untuk itu, hal ini menjadi sebuah tantangan bagi pelaku pariwisata di Jawa Barat untuk berbenah.

“Kita juga kelihatannya belum terlalu memoles diri, sehingga belakangan ini posisi kita itu ga naik-naik, dan ini menjadi perhatian. Kita berharap kedepannya Jawa Barat harus melakukan suatu terobosan lagi supaya kita bisa menjadi primadona wisata di Indonesia,” tegasnya.

Pariwisata Jabar Harus Segera Dipoles

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Ida Hernida pun mengiyakan apa yang dikeluhkan Budi sebagai ketua Asita. Menurut Ida, perlu perubahan dari masyarakat agar menjadi masyarakat wisata yang mampu memberikan kesan baik bagi pengunjung.

“Yang harus saya lakukan adalah merubah mindset masyarakat kita menjadi masyarakat pariwisata, jadi harus berlaku agar wisatawan memiliki kenangan yang baik,” sebutnya.

Adupun perihal tudingan pariwisata di Jawa Barat yang mahal, Ida dan Budi sama-sama beranggapan jika persoalan itu relatif. Namun, persoalan yang utama adalah kenyamanan.

“Persoalan mahal itu relatif, kalaupun di yang lain tidak ada, dan di kita ada, mahal pasti dikejar. Tetapi persoalan kenyamanan, kepuasan, kenangan yang indah, itu adalah faktor yang utama,” paparnya.

Sumber

Share